Cerita Arky dan Pasukan Larva Lalat Tentara Hitam Atasi Bencana Sampah di Banyumas
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pada 2018, Kabupaten Banyumas mengalami “kiamat kecil”. Ketika itu, daerah yang terletak di sisi barat daya Jawa Tengah ini terpuruk di tengah bencana sampah yang terjadi.
Krisis sampah di Banyumas pada
masa itu adalah tragedi ekologis dan kemanusiaan yang tidak sepele.
Petaka bak mimpi buruk itu
bermula pada 2016, saat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gunung Tugel ditutup
karena gunung-gemunung sampah di sana sudah melebihi kapasitas.
Air lindi dari TPA yang
berlokasi di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, tersebut mengalir tak
terkendali bagai cairan racun hitam yang siap memangsa siapa saja di lingkungan
sekitarnya.
Setelah TPA Gunung Tugel tamat
riwayatnya, limbah-limbah kota dialihkan pembuangannya ke TPA Kaliori di Desa
Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Banyumas.
Di situlah kiamat kecil itu benar-benar
mewujud. Setiap hari, truk-truk bak sampah beriringan seperti barisan monster
raksasa yang kemudian memuntahkan isi perutnya. Berton-ton sampah yang tiap
hari dialirkan ke Kaliori pun menggunung tak terkendali: mencemari sawah, meracuni
sumur-sumur air, dan menimbulkan kebusukan yang menyengat hidung, menyesakkan
dada, dan memedihkan mata.
Merasa situasi telah genting
dan membahayakan kehidupan mereka, pada Senin, 2 April 2018, ratusan warga desa
setempat meluapkan kemurkaan yang telah memuncak. Mereka menyuarakan protes
dengan cara berdemonstrasi dan memblokade akses jalan menuju TPA Kaliori.
Akhir Mei 2018, Pemkab
Banyumas pun mengumumkan adanya darurat sampah akibat penutupan TPA Kaliori.
Situasi genting ini menjadi
alarm panggilan bagi Arky Gilang Wahab (39) untuk bertolak dari Bandung, kota
tempat dia menamatkan pendidikan tinggi dan berkarier, untuk pulang ke kampung
halamannya di Desa Banjaranyar, Kecamatan Sokaraja, Banyumas.
Arky ingin ikut urun peran,
sekecil apa pun itu, dalam mengatasi krisis sampah yang terjadi di tanah
kelahirannya.
Makhluk
Mungil-Rakus Berikan Harapan
Setelah mempelajari data yang tersedia,
Arky menyadari bahwa mayoritas sampah yang berakhir di TPA adalah sampah
organik, khususnya sisa makanan.
Dia pun menekuri berbagai
literatur ilmiah dan sumber-sumber yang bercecer di dunia maya untuk mencari
solusi. Di situlah ia kemudian mendapat pengetahuan, bahwa sejenis makhluk
kecil yang kerap dianggap menjijikkan bisa menjadi pahlawan yang menyelamatkan
Banyumas dari bencana sampah berkepanjangan. Makhluk kecil itu adalah larva
alias belatung. Lebih tepatnya larva dari lalat jenis Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam yang dikenal dengan nama maggot.
Arky menjelaskan, maggot bisa
dijelaskan lewat sepenggal lirik lagu anak populer: “satu mulut saya, tidak berhenti
makan”. Ya, maggot adalah makhluk rakus yang tak berhenti makan sepanjang fase
hidupnya sebagai larva. Namun, justru sifat rakusnya itu sangat bermanfaat
dalam mengatasi permasalahan sampah organik.
“Setiap hari, maggot bisa
mengonsumsi sampah food waste (sisa makanan) dan food loss (bahan
makanan tak terpakai) lebih dari 10 kali lipat berat tubuhnya. Jadi dia bisa
mengurai sampah (organik),” kata Arky dalam sebuah video di kanal Youtube
Jerhemy Owen yang dipublikasikan pada Senin, 14 Juli 2025.
Ajaibnya, maggot juga punya “keterampilan
khusus” untuk mengurangi bau busuk sampah. Kata Arky, “Maggot punya zat
antimikrobial yang justru mengeliminasi bau. Satu-tiga jam setelah sampah
dikasihkan ke maggot, baunya akan mereda.”
Ia menambahkan, residu yang
menjadi hasil dekomposisi sampah organik oleh maggot bisa digunakan sebagai
pupuk organik.
“Sedangkan maggot-nya sendiri
bisa dikeringkan untuk menjadi pupuk, pakan ternak, bahkan kosmetik,” terang
alumnus Teknik Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini. Menurutnya, peluang
pasar produk olahan maggot di kancah internasional hingga kini masih terbuka
lebar.
Dengan segala keunggulan
tersebut, tegas Arky, maggot menjadi senjata biokonversi limbah organik yang
paling ramah lingkungan dan efektif.
Pada mulanya, Arky menguji
coba pembudidayaan maggot sebagai instrumen pengurai sampah organik di rumah
tangganya sendiri. Karena sukses, inisiatif ini kemudian menyebar ke
rumah-rumah tangga lain di lingkungan Desa Banjaranyar. Kala itu, dua ratusan
kilogram sampah organik bisa diolah Arky setiap harinya.
Greenprosa
Lahir, Manfaat Meluas
Tak berhenti sampai di situ, Arky dan pasukan maggot-nya juga merambah desa-desa lain. Ekspansi tersebut terus dia lakukan. Hingga kemudian pada 2021, Arky membangun sistem pengolahan sampah yang lebih terorganisasi dengan mendirikan PT Greenprosa Adikara Nusa (Greenprosa).
Performa Greenprosa terbilang
moncer. Mitra-mitra penyuplai limbah organik terus bertambah. Mereka juga
melebarkan sayap dengan menciptakan sistem pengelolaan sampah terpadu (integrated
waste management). Artinya, sampah yang dikelola Greenprosa tak lagi
sebatas sampah organik, sampah anorganik pun mereka tangani.
Dengan sistem pengelolaan
sampah ini, sejak 2022 hingga kini, Greenprosa mendapat kepercayaan untuk mengelola
seluruh sampah di Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor.
“Sekarang kami menangani (limbah)
Taman Safari Group dan area komersial di wilayah Puncak,” jelas Arky.
Di tempat pengolahan limbah Greenprosa
yang berada di TSI Bogor, dalam sehari puluhan ton sampah mereka kelola. Dalam
satu sif, atau delapan jam kerja, mereka bisa mengolah hingga 50 ton sampah. “Kalau
over time bisa 70-80 ton sehari,” ungkap Arky.
Dari puluhan ton sampah
tersebut, mayoritasnya, yakni 75 persen, merupakan sampah organik sisa makanan
yang dipercayakan penanganannya pada pasukan maggot.
“Karena kami ini integrated
waste management, dari collection (pengumpulan) sampai recycle
(daur ulang) kami lakukan di sini,” katanya.
Sampah yang masuk ke Greenprosa
awalnya masih bercampur tak keruan. Maka, langkah pertama yang dilakukan adalah
pemilahan sampah sesuai jenis-jenisnya. Pengolahan dilakukan pekerja
menggunakan mesin canggih buatan lokal.
Luar biasanya, apa yang dikerjakan
Greenprosa ini tidak lantas menyingkirkan para pekerja informal di bidang
persampahan (baca: pemulung) yang oleh Arky disebut “trash hero”
alias pahlawan sampah. Ia menjelaskan, “Kami ajak mereka join di Greenprosa.
Kebanyakan orang lokal. Bahkan 80 persen adalah teman-teman (pemulung) di jalan
dan tempat-tempat pembuangan liar. Di sini, pendapatan mereka naik hampir tiga
kali lipat.”
Setelah proses pemilahan,
sampah organik langsung disuplai menjadi kudapan bagi makhluk-makhluk kecil
rakus itu: maggot. Sedangkan sampah anorganiknya diolah menjadi Refuse
Derived Fuel (RDF), produk yang bisa dijadikan sumber energi alternatif
ramah lingkungan.
Hal lain yang mengundang decak
kagum dari Greenprosa adalah, dari total sampah yang masuk dan mereka olah,
residu yang tercipta hanya lima persen. Artinya: sangat efisien.
Jejak SATU
Indonesia Awards dalam Kiprah Greenprosa
Arky tidak menampik, salah
satu penyokongnya dalam membesarkan Greenprosa adalah Astra melalui program
penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards.
Atas kiprahnya di dunia
pengelolaan sampah, pada 2021, Arky menerima apresiasi SATU Indonesia Awards
tingkat nasional di bidang lingkungan.
Sistem konversi limbah organik
yang dijalankan Arky di Greenprosa dinilai berkontribusi bagi masyarakat untuk
mendukung terciptanya kehidupan berkelanjutan, khususnya dalam hal ketahanan pangan.
Tak bisa dimungkiri, Arky dan
pasukan maggot-nya memang berkontribusi terhadap ketahanan pangan. Sebab,
selain mengatasi permasalahan food waste dan food loss, produk
olahan maggot Greenprosa, sebagai pakan dan pupuk, juga menyuplai kebutuhan
peternakan dan pertanian.
Bagi Arky, SATU Indonesia
Awards memiliki dampak sosial yang luar biasa bagi para penerimanya. Dirinya
sendiri, dengan penghargaan ini, merasakan jejak peran Astra dalam pengembangan
Greenprosa.
“Paling seru, dengan diwadahi
Astra, saya bisa berkumpul dengan banyak orang keren dalam berbagai bidang. Akhirnya
makin termotivasi, jaringan membesar, dan dari situ company mulai scale
up. Selain dapat penghargaan dan ada hadiah uangnya, ada juga support
publikasi dari Astra. Di perusahaan ini, linkage (koneksi) banyak dari
Astra. Bagusnya di Astra itu,” jelas Arky.
Banyumas
Pulih, Sayap Terus Dikembangkan
Kiamat kecil akibat krisis
sampah yang terjadi di Banyumas pada 2018 kini telah menjadi kisah masa lalu. Peristiwa
sejarah itu menjadi pelajaran berharga untuk membuka lembaran kehidupan baru.
Kini Banyumas telah pulih. Ini
berkat kemauan, kepedulian, inovasi, dan kerja sama Pemerintah Kabupaten Banyumas
dengan berbagai pihak, termasuk Arky dan Greenprosa-nya.
Puluhan Tempat Pengelolaan Sampah
Terpadu (TPST) dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang hingga kini terus
aktif mengelola sampah, menunjukkan bahwa mencegah “kiamat kecil 2018” terulang
kembali adalah kerja bersama.
Keberhasilan Banyumas dalam
mengelola sampah secara produktif membuat Menteri Lingkungan Hidup, Hanif
Faisol Nurofiq, menilai bahwa kabupaten ini patut menjadi rujukan nasional
dalam pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Pengumpulan, pemilihan, dan
pengolahan akhir sampah sudah dilakukan secara cukup berhasil di Banyumas.
“Sampah organik sudah dipilah
dari sumbernya oleh masyarakat. Ini membuat TPA tidak menimbulkan bau tidak
sedap,” kata Hanif saat mengunjungi Tempat Pemrosesan Akhir Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPA BLE)
Banyumas, Sabtu (19/4/2025), sebagaimana dikutip Mongabay Indonesia.
Bahkan, pada September 2023
lalu, Banyumas dipercaya menjadi tuan rumah Smart Green ASEAN Cities (SGAC)
Programme—2nd City Windows Series, program yang diselenggarakan
oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF). Artinya, kabupaten ini telah
menjadi percontohan dalam hal pengelolaan sampah di tingkat Asia Tenggara.
Namun, di balik kesuksesan
itu, sejatinya pekerjaan belum berakhir. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Widodo Sugiri, pada Kamis, 12
Juni 2025 lalu, dari total 700-an ton sampah yang dihasilkan dua juta penduduk
Banyumas setiap harinya, baru 493 ton yang bisa diolah oleh 36 KSM.
“Artinya, masih ada sekitar 30
persen sampah yang belum tertangani. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi
kita,” kata Sugiri sebagaimana dikutip TribunBanyumas.com.
Arky selaku CEO Greenprosa
mengambil peran penting dalam penyelesaian pekerjaan rumah besar tersebut. Pemkab
Banyumas masih memberi kepercayaan pada Greenprosa dan prajurit-prajurit maggot-nya
untuk mengurai sampah organik di TPA BLE.
Selain itu, Pemkab Banyumas
juga memercayakan sebagian dana hibah internasional dari UNCDF untuk dikelola
Greenprosa. Dari total dana hibah sebesar USD150.000, sebanyak USD30.000 di
antaranya dipercayakan pada Greenprosa untuk disalurkan kepada KSM-KSM yang
mengelola sampah.
Bahkan, Arky tak hanya berhenti
di Banyumas. Sistem manajemen pengolahan limbah Greenprosa juga mengembangkan
sayap untuk diimplementasikan di daerah lain. Selain kerja sama yang telah
berjalan di TSI Bogor, Greenprosa juga telah menjajaki kolaborasi pengolahan
sampah dengan sejumlah pemerintah daerah, di antaranya Pemkot Pontianak dan
Pemkot Bandar Lampung.
Pada akhirnya, kisah tentang Arky dan Greenprosa adalah sebuah epos yang membuktikan bahwa seorang anak muda, dengan semangat belajar dan berinovasi, harapan, serta kepedulian yang dibawanya, bisa berkontribusi besar dalam mengubah wajah sejarah suatu daerah. Arky membuktikan, bahwa kepedulian, asalkan dirawat dengan ilmu dan keberanian, bisa menjelma menjadi kekuatan yang menyelamatkan dunia kecil di sekelilingnya dari kehancuran. ***
Daftar referensi:
1. https://mongabay.co.id/2018/05/29/banyumas-darurat-sampah-ada-apa/
2. https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/29672
3. https://regional.kompas.com/read/2025/06/11/194701478/dianggap-sukses-kelola-sampah-banyumas-dapat-hibah-150000-dolar-as-dari
4. https://mediaindonesia.com/humaniora/717128/arky-gilang-wahab-kembangkan-ekonomi-sirkular-dengan-kelola-sampah-berkelanjutan#goog_rewarded
5. https://www.beritasatu.com/network/suarapontianak/598876/pt-greenprosa-tawarkan-konsep-masnusa-pontianak-siap-wujudkan-kota-minim-sampah
6. https://smartnews.id/pemkot-pt-greenprosa-adikara-nusa-bahas-pengelolaan-sampah-terintegrasi
7. https://youtu.be/XbBplCV8GPM
8. https://waste4change.com/blog/pengelolaan-sampah-di-banyumas/
9. https://banyumas.tribunnews.com/2025/06/12/pemkab-banyumas-berencana-tambah-12-tpst-baru-target-tangani-sampah-700-ton-per-hari
10. https://mongabay.co.id/2025/04/25/berkah-kelola-sampah-banyumas-jadi-percontohan-nasional/
11. https://repository.uinsaizu.ac.id/26075/




Komentar
Posting Komentar