Cerita Arky dan Pasukan Larva Lalat Tentara Hitam Atasi Bencana Sampah di Banyumas

Arky Gilang Wahab, CEO Greenprosa & Penerima SATU Indonesia Awards 2021 tingkat nasional. [Youtube Greenprosa]

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pada 2018, Kabupaten Banyumas mengalami “kiamat kecil”. Ketika itu, daerah yang terletak di sisi barat daya Jawa Tengah ini terpuruk di tengah bencana sampah yang terjadi.

Krisis sampah di Banyumas pada masa itu adalah tragedi ekologis dan kemanusiaan yang tidak sepele.

Petaka bak mimpi buruk itu bermula pada 2016, saat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gunung Tugel ditutup karena gunung-gemunung sampah di sana sudah melebihi kapasitas.

Air lindi dari TPA yang berlokasi di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, tersebut mengalir tak terkendali bagai cairan racun hitam yang siap memangsa siapa saja di lingkungan sekitarnya.

Setelah TPA Gunung Tugel tamat riwayatnya, limbah-limbah kota dialihkan pembuangannya ke TPA Kaliori di Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Banyumas.

Di situlah kiamat kecil itu benar-benar mewujud. Setiap hari, truk-truk bak sampah beriringan seperti barisan monster raksasa yang kemudian memuntahkan isi perutnya. Berton-ton sampah yang tiap hari dialirkan ke Kaliori pun menggunung tak terkendali: mencemari sawah, meracuni sumur-sumur air, dan menimbulkan kebusukan yang menyengat hidung, menyesakkan dada, dan memedihkan mata.

Merasa situasi telah genting dan membahayakan kehidupan mereka, pada Senin, 2 April 2018, ratusan warga desa setempat meluapkan kemurkaan yang telah memuncak. Mereka menyuarakan protes dengan cara berdemonstrasi dan memblokade akses jalan menuju TPA Kaliori.

Akhir Mei 2018, Pemkab Banyumas pun mengumumkan adanya darurat sampah akibat penutupan TPA Kaliori.

Situasi genting ini menjadi alarm panggilan bagi Arky Gilang Wahab (39) untuk bertolak dari Bandung, kota tempat dia menamatkan pendidikan tinggi dan berkarier, untuk pulang ke kampung halamannya di Desa Banjaranyar, Kecamatan Sokaraja, Banyumas.

Arky ingin ikut urun peran, sekecil apa pun itu, dalam mengatasi krisis sampah yang terjadi di tanah kelahirannya.

Makhluk Mungil-Rakus Berikan Harapan

Larva lalat jenis Black Soldier Fly (BSF) yang disebut maggot. [Dok. Greenprosa]

Setelah mempelajari data yang tersedia, Arky menyadari bahwa mayoritas sampah yang berakhir di TPA adalah sampah organik, khususnya sisa makanan.

Dia pun menekuri berbagai literatur ilmiah dan sumber-sumber yang bercecer di dunia maya untuk mencari solusi. Di situlah ia kemudian mendapat pengetahuan, bahwa sejenis makhluk kecil yang kerap dianggap menjijikkan bisa menjadi pahlawan yang menyelamatkan Banyumas dari bencana sampah berkepanjangan. Makhluk kecil itu adalah larva alias belatung. Lebih tepatnya larva dari lalat jenis Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam yang dikenal dengan nama maggot.

Arky menjelaskan, maggot bisa dijelaskan lewat sepenggal lirik lagu anak populer: “satu mulut saya, tidak berhenti makan”. Ya, maggot adalah makhluk rakus yang tak berhenti makan sepanjang fase hidupnya sebagai larva. Namun, justru sifat rakusnya itu sangat bermanfaat dalam mengatasi permasalahan sampah organik.

“Setiap hari, maggot bisa mengonsumsi sampah food waste (sisa makanan) dan food loss (bahan makanan tak terpakai) lebih dari 10 kali lipat berat tubuhnya. Jadi dia bisa mengurai sampah (organik),” kata Arky dalam sebuah video di kanal Youtube Jerhemy Owen yang dipublikasikan pada Senin, 14 Juli 2025.

Ajaibnya, maggot juga punya “keterampilan khusus” untuk mengurangi bau busuk sampah. Kata Arky, “Maggot punya zat antimikrobial yang justru mengeliminasi bau. Satu-tiga jam setelah sampah dikasihkan ke maggot, baunya akan mereda.”

Ia menambahkan, residu yang menjadi hasil dekomposisi sampah organik oleh maggot bisa digunakan sebagai pupuk organik.

“Sedangkan maggot-nya sendiri bisa dikeringkan untuk menjadi pupuk, pakan ternak, bahkan kosmetik,” terang alumnus Teknik Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini. Menurutnya, peluang pasar produk olahan maggot di kancah internasional hingga kini masih terbuka lebar.

Dengan segala keunggulan tersebut, tegas Arky, maggot menjadi senjata biokonversi limbah organik yang paling ramah lingkungan dan efektif.

Pada mulanya, Arky menguji coba pembudidayaan maggot sebagai instrumen pengurai sampah organik di rumah tangganya sendiri. Karena sukses, inisiatif ini kemudian menyebar ke rumah-rumah tangga lain di lingkungan Desa Banjaranyar. Kala itu, dua ratusan kilogram sampah organik bisa diolah Arky setiap harinya.

Greenprosa Lahir, Manfaat Meluas

Arky Gilang Wahab (berkaca mata) menunjukkan cara kerja pemilahan sampah di tempat pengolahan sampah Greenprosa yang berada di Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor. [Youtube Jerhemy Owen]

Tak berhenti sampai di situ, Arky dan pasukan maggot-nya juga merambah desa-desa lain. Ekspansi tersebut terus dia lakukan. Hingga kemudian pada 2021, Arky membangun sistem pengolahan sampah yang lebih terorganisasi dengan mendirikan PT Greenprosa Adikara Nusa (Greenprosa).

Performa Greenprosa terbilang moncer. Mitra-mitra penyuplai limbah organik terus bertambah. Mereka juga melebarkan sayap dengan menciptakan sistem pengelolaan sampah terpadu (integrated waste management). Artinya, sampah yang dikelola Greenprosa tak lagi sebatas sampah organik, sampah anorganik pun mereka tangani.

Dengan sistem pengelolaan sampah ini, sejak 2022 hingga kini, Greenprosa mendapat kepercayaan untuk mengelola seluruh sampah di Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor.

“Sekarang kami menangani (limbah) Taman Safari Group dan area komersial di wilayah Puncak,” jelas Arky.

Di tempat pengolahan limbah Greenprosa yang berada di TSI Bogor, dalam sehari puluhan ton sampah mereka kelola. Dalam satu sif, atau delapan jam kerja, mereka bisa mengolah hingga 50 ton sampah. “Kalau over time bisa 70-80 ton sehari,” ungkap Arky.

Dari puluhan ton sampah tersebut, mayoritasnya, yakni 75 persen, merupakan sampah organik sisa makanan yang dipercayakan penanganannya pada pasukan maggot.

“Karena kami ini integrated waste management, dari collection (pengumpulan) sampai recycle (daur ulang) kami lakukan di sini,” katanya.

Sampah yang masuk ke Greenprosa awalnya masih bercampur tak keruan. Maka, langkah pertama yang dilakukan adalah pemilahan sampah sesuai jenis-jenisnya. Pengolahan dilakukan pekerja menggunakan mesin canggih buatan lokal.

Luar biasanya, apa yang dikerjakan Greenprosa ini tidak lantas menyingkirkan para pekerja informal di bidang persampahan (baca: pemulung) yang oleh Arky disebut “trash hero” alias pahlawan sampah. Ia menjelaskan, “Kami ajak mereka join di Greenprosa. Kebanyakan orang lokal. Bahkan 80 persen adalah teman-teman (pemulung) di jalan dan tempat-tempat pembuangan liar. Di sini, pendapatan mereka naik hampir tiga kali lipat.”

Setelah proses pemilahan, sampah organik langsung disuplai menjadi kudapan bagi makhluk-makhluk kecil rakus itu: maggot. Sedangkan sampah anorganiknya diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), produk yang bisa dijadikan sumber energi alternatif ramah lingkungan.

Hal lain yang mengundang decak kagum dari Greenprosa adalah, dari total sampah yang masuk dan mereka olah, residu yang tercipta hanya lima persen. Artinya: sangat efisien.

Jejak SATU Indonesia Awards dalam Kiprah Greenprosa

Arky Gilang Wahab menerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2021. [Instagram @arkygilang]

Arky tidak menampik, salah satu penyokongnya dalam membesarkan Greenprosa adalah Astra melalui program penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards.

Atas kiprahnya di dunia pengelolaan sampah, pada 2021, Arky menerima apresiasi SATU Indonesia Awards tingkat nasional di bidang lingkungan.

Sistem konversi limbah organik yang dijalankan Arky di Greenprosa dinilai berkontribusi bagi masyarakat untuk mendukung terciptanya kehidupan berkelanjutan, khususnya dalam hal ketahanan pangan.

Tak bisa dimungkiri, Arky dan pasukan maggot-nya memang berkontribusi terhadap ketahanan pangan. Sebab, selain mengatasi permasalahan food waste dan food loss, produk olahan maggot Greenprosa, sebagai pakan dan pupuk, juga menyuplai kebutuhan peternakan dan pertanian.

Bagi Arky, SATU Indonesia Awards memiliki dampak sosial yang luar biasa bagi para penerimanya. Dirinya sendiri, dengan penghargaan ini, merasakan jejak peran Astra dalam pengembangan Greenprosa.

“Paling seru, dengan diwadahi Astra, saya bisa berkumpul dengan banyak orang keren dalam berbagai bidang. Akhirnya makin termotivasi, jaringan membesar, dan dari situ company mulai scale up. Selain dapat penghargaan dan ada hadiah uangnya, ada juga support publikasi dari Astra. Di perusahaan ini, linkage (koneksi) banyak dari Astra. Bagusnya di Astra itu,” jelas Arky.

Banyumas Pulih, Sayap Terus Dikembangkan

Kiamat kecil akibat krisis sampah yang terjadi di Banyumas pada 2018 kini telah menjadi kisah masa lalu. Peristiwa sejarah itu menjadi pelajaran berharga untuk membuka lembaran kehidupan baru.

Kini Banyumas telah pulih. Ini berkat kemauan, kepedulian, inovasi, dan kerja sama Pemerintah Kabupaten Banyumas dengan berbagai pihak, termasuk Arky dan Greenprosa-nya.

Puluhan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang hingga kini terus aktif mengelola sampah, menunjukkan bahwa mencegah “kiamat kecil 2018” terulang kembali adalah kerja bersama.

Keberhasilan Banyumas dalam mengelola sampah secara produktif membuat Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menilai bahwa kabupaten ini patut menjadi rujukan nasional dalam pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Pengumpulan, pemilihan, dan pengolahan akhir sampah sudah dilakukan secara cukup berhasil di Banyumas.

“Sampah organik sudah dipilah dari sumbernya oleh masyarakat. Ini membuat TPA tidak menimbulkan bau tidak sedap,” kata Hanif saat mengunjungi Tempat Pemrosesan Akhir Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPA BLE) Banyumas, Sabtu (19/4/2025), sebagaimana dikutip Mongabay Indonesia.

Bahkan, pada September 2023 lalu, Banyumas dipercaya menjadi tuan rumah Smart Green ASEAN Cities (SGAC) Programme—2nd City Windows Series, program yang diselenggarakan oleh United Nations Capital Development Fund (UNCDF). Artinya, kabupaten ini telah menjadi percontohan dalam hal pengelolaan sampah di tingkat Asia Tenggara.

Namun, di balik kesuksesan itu, sejatinya pekerjaan belum berakhir. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Widodo Sugiri, pada Kamis, 12 Juni 2025 lalu, dari total 700-an ton sampah yang dihasilkan dua juta penduduk Banyumas setiap harinya, baru 493 ton yang bisa diolah oleh 36 KSM.

“Artinya, masih ada sekitar 30 persen sampah yang belum tertangani. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita,” kata Sugiri sebagaimana dikutip TribunBanyumas.com.

Arky selaku CEO Greenprosa mengambil peran penting dalam penyelesaian pekerjaan rumah besar tersebut. Pemkab Banyumas masih memberi kepercayaan pada Greenprosa dan prajurit-prajurit maggot-nya untuk mengurai sampah organik di TPA BLE.

Selain itu, Pemkab Banyumas juga memercayakan sebagian dana hibah internasional dari UNCDF untuk dikelola Greenprosa. Dari total dana hibah sebesar USD150.000, sebanyak USD30.000 di antaranya dipercayakan pada Greenprosa untuk disalurkan kepada KSM-KSM yang mengelola sampah.

Bahkan, Arky tak hanya berhenti di Banyumas. Sistem manajemen pengolahan limbah Greenprosa juga mengembangkan sayap untuk diimplementasikan di daerah lain. Selain kerja sama yang telah berjalan di TSI Bogor, Greenprosa juga telah menjajaki kolaborasi pengolahan sampah dengan sejumlah pemerintah daerah, di antaranya Pemkot Pontianak dan Pemkot Bandar Lampung.

Pada akhirnya, kisah tentang Arky dan Greenprosa adalah sebuah epos yang membuktikan bahwa seorang anak muda, dengan semangat belajar dan berinovasi, harapan, serta kepedulian yang dibawanya, bisa  berkontribusi besar dalam mengubah wajah sejarah suatu daerah. Arky membuktikan, bahwa kepedulian, asalkan dirawat dengan ilmu dan keberanian, bisa menjelma menjadi kekuatan yang menyelamatkan dunia kecil di sekelilingnya dari kehancuran. ***


Daftar referensi:

1. https://mongabay.co.id/2018/05/29/banyumas-darurat-sampah-ada-apa/

2. https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/29672

3. https://regional.kompas.com/read/2025/06/11/194701478/dianggap-sukses-kelola-sampah-banyumas-dapat-hibah-150000-dolar-as-dari

4. https://mediaindonesia.com/humaniora/717128/arky-gilang-wahab-kembangkan-ekonomi-sirkular-dengan-kelola-sampah-berkelanjutan#goog_rewarded

5. https://www.beritasatu.com/network/suarapontianak/598876/pt-greenprosa-tawarkan-konsep-masnusa-pontianak-siap-wujudkan-kota-minim-sampah

6. https://smartnews.id/pemkot-pt-greenprosa-adikara-nusa-bahas-pengelolaan-sampah-terintegrasi

7. https://youtu.be/XbBplCV8GPM

8. https://waste4change.com/blog/pengelolaan-sampah-di-banyumas/

9. https://banyumas.tribunnews.com/2025/06/12/pemkab-banyumas-berencana-tambah-12-tpst-baru-target-tangani-sampah-700-ton-per-hari

10. https://mongabay.co.id/2025/04/25/berkah-kelola-sampah-banyumas-jadi-percontohan-nasional/

11. https://repository.uinsaizu.ac.id/26075/


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejuang Literasi Itu Telah Berpulang dan Mewariskan Bintang-Bintang yang Bersinar Cemerlang (Sebuah Obituarium)

Pantun "Kekuatan Sejati" dan Makna Filosofisnya