Pejuang Literasi Itu Telah Berpulang dan Mewariskan Bintang-Bintang yang Bersinar Cemerlang (Sebuah Obituarium)


Mendiang Yulianto, pendiri Rumah Baca Bintang dan Boneka Pustaka Bergerak. (Instagram @yuliantodelaveras)

 

“Buku-buku itu bagaikan bintang-bintang di langit yang memancarkan cahaya indah.” (Yulianto, 1990-2024)

Sabtu (28/6/2025) selepas magrib, putriku yang berusia dua tahun, Arunika Zhafira Mahana, meminta dibacakan buku cerita. Setelah syarat dariku untuk mengaji huruf hijaiyah terlebih dahulu dia penuhi, kuminta putriku memilih buku di lemari untuk dibaca.

Dia memilih buku berjudul “Suara Apa Itu?”. Buku berjenis boardbook bertema alat transportasi itu memang salah satu favoritnya. Sangat sering dia minta dibacakan buku itu meski sudah hafal isinya.

Buku itu adalah pemberian dari Yulianto alias Om Yuli, teman suamiku. Dia adalah pendiri Rumah Baca Bintang yang berlokasi di Desa Sumberjosari, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Dia juga dikenal sebagai aktivis literasi gerakan "Boneka Pustaka Bergerak" yang berhasil memenangkan apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards tingkat provinsi pada tahun 2021.

Aku dan putriku sedang membaca buku "Suara Apa Itu?" (dokumentasi pribadi)

Suatu hari suamiku pernah mengunggah foto di status WhatsApp. Foto yang menampilkan kegiatan suamiku yang tengah membacakan buku untuk Arunika tersebut dilihat oleh Yulianto. Tak lama kemudian, Yulianto menghadiahi Arunika sepaket buku anak yang harganya menurutku tidak murah.

Kata suamiku, Yulianto senang jika ada orang tua yang tidak menganggap sepele kebutuhan nutrisi otak untuk anak. Menurutnya, anak-anak harus diperkenalkan dengan buku sedini mungkin demi merangsang indera dan kecerdasan mereka.

Mendengar itu dari suamiku, aku jadi sangat terkesan dengan sosok Yulianto. Jika ada kesempatan, aku ingin mengajak putriku berkunjung ke rumah baca miliknya meskipun jaraknya dari rumahku di Pati, Jawa Tengah, tidak bisa dibilang dekat. Butuh waktu tempuh kurang-lebih dua jam perjalanan darat.

Namun, takdir berkata lain, pada akhirnya, aku tidak pernah berkesempatan bertemu langsung dengannya. Kudengar kabar dari suamiku, pada 19 September 2024, Yulianto telah meninggal dunia. Dalam hati, kudoakan hal-hal baik untuk sosok yang bagiku sangat inspiratif itu.

Tentang Rumah Baca Bintang dan Boneka Pustaka Bergerak

Nun di sudut Grobogan, sebuah rumah baca sederhana memancarkan harapan. Tumpukan buku yang berjajar rapi di dalamnya bak bintang-bintang yang menyinari bumi dengan cahaya gemerlapan.

Begitulah cara Yulianto berimajinasi tentang buku-buku. Bagi pria kelahiran 19 Juli 1990 ini, buku-buku ibarat bintang-bintang di langit yang bersinar terang.

Keyakinan itu pula yang membuat Yulianto mendirikan Rumah Baca Bintang di kediamannya, Dusun Jajar, Desa Sumberjosari, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, pada tahun 2011.

“Saya yakin, dengan gemar membaca buku, anak-anak bisa menggapai cita-cita setinggi bintang-bintang di langit,” kata pria berperawakan kurus dan berkaca mata ini.

Maka, menyemai bibit minat membaca kepada insan belia menjadi panggilan hati bagi dirinya. Banjir bandang, musibah bertubi-tubi, hingga penyakit mematikan yang dideritanya tak pernah menyurutkan langkahnya.

Dia lakukan itu semua demi mengobati Indonesia dari salah satu penyakit kronisnya: krisis literasi.

Menurut penelitian UNESCO pada 2014, indeks tingkat membaca orang Indonesia hanya 0,001 persen. Dari seribu penduduk, hanya satu orang yang punya kebiasaan membaca buku secara serius.

Persoalan ini menjadi keprihatinan Yulianto. Namun, bagi dia, lebih baik menyalakan lilin ketimbang hanya mengutuki kegelapan.

“Orang selalu bilang, minat baca orang Indonesia rendah. Krisis literasi. Namun, menurut saya, akar persoalannya adalah distribusi bahan bacaan berkualitas yang tidak merata serta aktivitas pembinaan minat baca yang minim. Maka, itulah yang harus kita lakukan, memastikan ketersediaan buku-buku berkualitas dan mengadakan kegiatan-kegiatan untuk menumbuhkan minat baca anak,” ujarnya.

Saat mendirikan rumah baca pada 2011, Yulianto membangun koleksi buku perlahan-lahan dari hasil menyisihkan gaji dari pekerjaannya sebagai pustakawan SMP swasta. Karena minim biaya, buku-buku itu dia tata sekadarnya dalam peti-peti telur yang disusun menyerupai lemari.

Lewat perjuangan tak mudah, buku-buku di rumah bacanya lambat laun terus bertambah. Namun, hal ini justru menimbulkan kegelisahan baru pada diri Yulianto. Bagi dia, setinggi apa pun gunungan koleksi buku, tak akan ada gunanya jika tidak bisa menjangkau orang banyak.

Akhirnya, pada awal 2018, Yulianto mengambil keputusan besar. Dia keluar dari pekerjaan agar bisa berkeliling ke pelosok-pelosok Grobogan, dari taman ke taman hingga sekolah ke sekolah, untuk membacakan buku di hadapan anak-anak. Dia ingin mengabdikan diri secara penuh di dunia literasi.

Tak ingin membacakan buku dengan pembawaan membosankan, Yulianto belajar mendongeng di sebuah sanggar di Kota Semarang. Boneka kemudian menjadi ciri khas gerakan literasinya. Dengan perantara boneka tangan, dia membacakan buku, berdongeng, dan berinteraksi dengan anak-anak. Dia mengendarai sepeda motor bututnya untuk menerobos hutan, melintasi jalan sempit berbatu, hingga menerjang banjir, sambil menenteng buku-buku dan boneka.

“Boneka jadi cara saya mengatasi sifat saya yang pada dasarnya pemalu. Anak-anak jadi lebih fokus pada bonekanya dan saya jadi lebih fokus dan percaya diri untuk bercerita,” kata laki-laki yang menuntaskan pendidikan sarjana di jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Terbuka Purwodadi ini.

Gerakan literasi Yulianto kemudian menarik perhatian Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Pustaka Bergerak Indonesia yang telah wafat pada 6 Agustus 2023 lalu. Yulianto diajak Nirwan untuk bergabung dalam gerakan berskala nasional ini.

Semenjak itulah, Yulianto dikenal sebagai pencetus “Boneka Pustaka Bergerak”. Perpaduan buku-buku dan boneka tangan menjadi ciri khasnya. Dengan keunikannya ini, Yulianto juga mendapat apresiasi langsung dari Najwa Shihab, sosok tersohor yang ketika itu menyandang titel Duta Baca Nasional. Yulianto pun membuat boneka tangan bernama Nana sebagai bentuk penghormatan kepada Najwa Shihab. Boneka Nana menjadi salah satu tandem Yulianto dalam menjalankan kegiatan literasi.

Nama Yulianto pun kian masyhur di ranah literasi. Banyak pihak mulai mengenalnya sebagai pejuang literasi asal Grobogan. Jejaringnya di dunia perbukuan kian luas. Dia lalu banyak mendapat bantuan bahan bacaan maupun mainan dari berbagai donatur.

Cobaan Berat

Meski relasi dan donasi buku terus berdatangan pada Yulianto, perjuangannya tidaklah mulus-mulus saja. Musibah pernah datang bertubi-tubi.

Cobaan pertama itu berupa penyakit. Suatu hari pada tahun 2019, saat Yulianto hendak mendonorkan darah, oleh dokter tiba-tiba dia terdeteksi mengidap suatu virus yang menyerang kekebalan tubuh. Dia syok bukan kepalang.

“Perasaan saya campur aduk tak karuan. Saya bertanya-tanya, bagaimana saya bisa kena penyakit ini? Dari mana sumbernya? Padahal selama ini, sudah 12 tahun saya rutin donor darah tanpa ada masalah,” ungkapnya.

Yulianto pun menerima nasib harus minum obat setiap hari sepanjang hayat demi mengatasi penyakit ini.

Namun, sudah jatuh ditimpa tangga, cobaan lain datang. Yuli mengalami kecelakaan lalu lintas cukup fatal saat perjalanan menuju lokasi lapak baca. Dia mengalami kecelakaan tunggal, terjatuh dari sepeda motor saat mencoba menghindari bus yang mengerem mendadak. Akibatnya, Yulianto luka-luka. Tulang lengan dan tempurung lututnya retak. Dia pun harus menjalani pemulihan selama berbulan-bulan.

Di atas ranjang perawatan, meski gerak tubuhnya jadi sangat terbatas, Yulianto berupaya tetap bergerak di dunia literasi. Dia lalu menginisiasi pembentukan empat rumah baca baru di Grobogan sebagai simpul jejaring dari Rumah Baca Bintang.

Sungguh tragis, cobaan belum bosan datang menghampiri. Banjir bandang menerjang Rumah Baca Bintang tanpa ampun. Nyaris seluruh koleksi buku yang dikumpulkan Yulianto secara susah payah rusak berantakan.

Musibah beruntun pada tahun 2019 itu membuat Yulianto merasa depresi dan sempat berpikir untuk menyerah. Namun, cobaan demi cobaan itu justru mendorongnya untuk berkontemplasi. Setelah merenung panjang, Yulianto pun berkesimpulan bahwa dia harus meneguhkan keikhlasan.

“Saya ingin ikhlas seperti surat Al-Ikhlas yang tidak punya satu pun kata ‘ikhlas’ di dalamnya. Cobaan yang saya alami mungkin bentuk teguran dari Allah karena selama ini saya masih ingin cari popularitas,” ucapnya.

Yulianto pun bertekad untuk berjuang secara ikhlas, tidak lagi mengejar materi maupun popularitas.

Setelah itu, Yulianto bangkit kembali bersama gerakan literasinya. Bahkan melejit lebih tinggi ketimbang sebelumnya. Di situlah rahasia cantik Tuhan terbuka: saat tak lagi mengejar popularitas, perjuangan Yulianto justru makin dikenal banyak pihak.

Pada Oktober 2021, dia mendapatkan apresiasi SATU Indonesia Awards dari PT Astra International, Tbk. Dia meraih penghargaan tingkat provinsi di bidang pendidikan.

Makin banyak pula pihak-pihak yang mengirimkan buku-buku untuk mendukungnya. Rumah Baca Bintang kian hidup. Koleksinya berlipat ganda, jauh lebih banyak dari sebelum banjir bandang menerjang. Sampai-sampai banyak buku dan mainan yang bisa dia bagikan secara cuma-cuma. Termasuk ribuan mushaf Al-Qur’an yang dia dapat dari sebuah penerbit.

Warisan Berharga

Aku yakin, sekalipun belum pernah berkesempatan bertemu langsung dengannya, Yulianto telah banyak meninggalkan amal jariyah. Buku-buku yang dia perkenalkan pada anak-anak akan terus menyala terang, manfaatnya akan terus memancar tanpa pernah padam hingga akhir masa.

Dalam unggahannya di akun Instagram @yuliantodelaveras pada 8 Agustus 2023, Yulianto pernah menulis takarir berisi kata-kata perpisahan untuk Nirwan Ahmad Arsuka, sosok yang sangat dia hormati.

“Terima kasih telah berbagi rasa merdeka bagi anak-anak hebat dan siapa saja yang haus akan ilmu pengetahuan di negeri ini … Engkau sampaikan pesan-pesan kebaikan dan penyemangat untuk tetap hidup dan bergerak. Tapi kini justru Engkau telah lebih dulu kembali pada Allah SWT. Selamat jalan, Bapak. Tenang dan bahagia di surga. Terima kasih telah mengirimkan ratusan ton buku ke pelosok desa di negeri ini.” Begitu kata-kata yang ditulis Yulianto.

Sekarang, menurutku kalimat-kalimat itu juga tertuju pada diri Yulianto sendiri. Dia telah tiada. Berpulang menghadap Sang Pencipta. Bagi orang-orang yang ditinggalkannya, Yulianto meninggalkan warisan berharga, yakni buku-buku yang menyala terang bak bintang-bintang di angkasa. Aku berharap, warisan ini bisa menjadi perantara baginya agar berbahagia di alam sana.

Referensi:

https://seminar.uad.ac.id/index.php/semhasmengajar/article/download/11096/pdf

https://berita.murianews.com/saiful-anwar/423471/kabar-duka-pegiat-literasi-grobogan-yulianto-tutup-usia

https://www.kompas.com/edu/read/2023/11/06/131740071/jalan-terjal-yulianto-tingkatkan-literasi-di-pelosok-grobogan

https://jateng.tribunnews.com/2021/12/30/sebarkan-virus-gemar-membaca-sampai-tulang-tulang-retak-kisah-yulianto-dan-boneka-pustaka-bergerak

https://muria.tribunnews.com/2024/07/20/yulianto-serasa-terlahir-kembali-sersama-boneka-pustaka-bergerak-rumah-baca-bintang-grobogan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Arky dan Pasukan Larva Lalat Tentara Hitam Atasi Bencana Sampah di Banyumas

Pantun "Kekuatan Sejati" dan Makna Filosofisnya